Contact

Sewa villa murah di puncak dengan harga terjangkau

Untuk info silahkan hubungi kami.

081383450245   081383450245

vipuncak@yahoo.com   vipuncak@yahoo.com

   Yahoo! Messenger:

CS1:  raider_street

CS2:  pertama95

powered by villa murah di puncak.com
Melayang di Bukit Paralayang, Kawasan Puncak PDF Print E-mail

Akhir pekan kemarin, saya beserta teman-teman mencoba wisata paralayang di Kawasan Puncak, Bogor. Tak disangka-sangka, ternyata ada spot tersembunyi untuk ber-paralayang dan ber-gantole di Kawasan Puncak, dekat Masjid At-Ta’awun! Padahal selama saya kuliah di Bandung awal tahun 2000-an, saya sering melewati spot ini, namun tidak pernah menyadari kalau terdapat Bukit Paralayang di daerah sana.

Bukit Paralayang di Kawasan Puncak, Bogor.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2010

Tentang Paralayang
Kami amat beruntung karena tandem master kami hari itu adalah Opa David –yang terkenal sebagai Opa Paralayang Indonesia– yaitu salah seorang pelopor olahraga paralayang atau paragliding di Indonesia. Dari Opa David, kami diceritakan sekilas mengenai sejarah paralayang Indonesia.

Dulu olahraga ini disebut olahraga terjun gunung, karena tujuannya mempercepat waktu yang dibutuhkan untuk turun gunung. “Tiga hari naik gunung, turunnya cuma perlu setengah jam dengan paralayang,” jelas Opa David sambil tertawa. Pertama kali diresmikan sekitar awal tahun 1990-an oleh Federasi Aero Sport Indonesia (FASI), olahraga ini akhirnya berhasil menjadi cabang olahraga resmi kedirgantaraan, dengan mengganti nama olahraga Terjun Gunung menjadi Paralayang.

Saya sempat salah mengira bahwa paralayang itu adalah olahraga gantole –yang menggunakan perangkat terbang berbentuk segitiga–, ternyata berbeda. Paralayang adalah olahraga yang menggunakan parasut dan biasanya dilakukan di bukit gunung sebagai landasan pacu. Agak serupa dengan parasailing yang menggunakan boat, bedanya paralayang ini hanya menggunakan kaki.


Olahraga Gantole juga dapat dilakukan di Bukit Paralayang ini.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2010

Opa David, “Opa Paralayang Indonesia”
Kami janjian bertemu dengan Opa David pada pukul 9 pagi di Bukit Paralayang, Kawasan Puncak, Bogor. Patokannya kalau dari Jakarta, setelah Masjid At-Ta’awun, melewati sebuah tikungan, ada jalan masuk di sebelah kiri, maka di situlah letak area masuk ke Bukit Paralayang. Beberapa kali kami melihat penanda di jalan menuju Bukit Paralayang, bertuliskan “Paralayang/Gantole, … km.”

Opa David, “Opa Paralayang Indonesia”
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2010

Akhirnya kami tiba di Bukit Paralayang sekitar jam setengah 9, Opa David menyambut kami dengan sumringah. Ia menjelaskan bahwa kita harus menunggu angin dulu sebelum melayang, apalagi saat itu masih berkabut. Olahraga paralayang memang olahraga yang sangat tergantung cuaca, kecepatan angin, dan sebagainya, oleh karena itu olahraga ini hanya bisa dilakukan pada musim kemarau (Maret-Oktober). Sambil menunggu waktu yang tepat, kami menghabiskan waktu dengan sarapan dahulu di warung-warung kecil yang terdapat di sana.

Saat itu, Opa David seringkali disapa oleh para atlet paralayang yang mampir, salah satunya wanita, ia berceletuk, “Wah, kalian mau nyoba paralayang? Ngga usah. Bahaya!” Namun kemudian ia tertawa sambil melanjutkan kalimatnya, “Bahaya, nanti ketagihan!” Yang langsung disambut dengan tawa oleh kami semua yang berada di sana.

Melayang di Bukit Paralayang
Untungnya tidak memerlukan waktu yang lama untuk mendapatkan waktu yang bagus untuk melayang. Di Bukit Paralayang telah disediakan perangkat paralayang untuk para peserta tandem, berupa parasut, helm, dan flight suit. Flight suit ini juga berfungsi sebagai tempat duduk saat melayang di udara. Praktis dan aman, hingga kami bisa memotret pemandangan dari atas.

Sebelum terbang, kami dipersilahkan untuk mengisi semacam formulir yang menyatakan bahwa kami siap menerima segala konsekuensi dengan ikutnya kami sebagai penumpang tandem. Maklum, olahraga ini termasuk olahraga yang cukup berbahaya apabila tidak didampingi oleh orang yang telah berpengalaman.

Saya mengamati bahwa diperlukan sekitar 3-8 orang untuk membantu mempersiapkan parasut dan menuntun paraglider untuk take off. Parasut selebar sekitar 10 meter itu dibentangkan di landasan pacu, dan dipegangi oleh beberapa kru. Kemudian setelah ada aba-aba siap, saya dan Opa David berjalan sedikit berlari menuju langit luas di depan saya. Dan whoosh… Parasut terbentang dan kami berdua telah melayang di udara! Melayang di udara dengan hembusan udara dingin benar-benar menyegarkan!


Bersiap-siap untuk terbang…
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2010
…dan terbaaanng!!
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2010

Saat di udara, Opa David yang sekaligus berperan sebagai pemandu, menjelaskan lokasi-lokasi di bawah kami, ada hulu Sungai Ciliwung, rumah mantan presiden Soekarno, dan sebagainya. Jujur saya tidak terlalu memperhatikan, karena saat itu saya sendiri sedang takjub melihat pemandangan dari atas, hehehe…

Saya pun bertanya kepada Opa David mengenai sejarah bagaimana beliau bisa mulai tertarik paralayang. Beliau menjelaskan, bahwa ia takjub saat pertamakali mencoba paralayang di Inggris bersama teman-teman mendakinya. Waktu mendaki gunung yang menghabiskan waktu tiga hari, dengan enteng mereka turun gunung dengan paralayang yang hanya menghabiskan waktu setengah jam saja!

Dari sana, akhirnya beliau ketagihan untuk menekuni olahraga paralayang, namun sayangnya saat itu olahraga paralayang belum ada organisasi resminya di Indonesia. Tak ketinggalan akal, maka Opa David dan teman-temannya pun membuat olahraga “terjun gunung” sebagaimana yang sudah diceritakan sebelumnya, sampai akhirnya FASI tertarik untuk “melegalkan” olahraga tersebut.

Tak terasa sekitar 10-15 menit telah berlalu, akhirnya landing spot kami di lereng Gunung Mas –yang berupa landasan berwarna merah– sudah terlihat dari kejauhan. Terlihat pula beberapa warga lokal yang sudah bersiap-siap menyambut kami. “Angkat kaki tinggi dan lurus ya,” instruksi Opa David. Dan kami pun mendarat dengan sempurna di landasan.

Landing Spot di lereng Gunung Mas.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2010

Dengan cekatan warga lokal langsung membantu kami berdiri dan membereskan perlengkapan kami. Dari sini, kami kembali ke Bukit Paralayang dengan menggunakan angkot yang sudah di-charter oleh asosiasi. Sampai di Bukit Paralayang, tanpa istirahat Opa David pun segera bersiap-siap kembali terbang tandem dengan teman-teman saya yang lain. Setelah saya dan teman-teman mencoba terbang tandem bersama Opa David, semuanya pun berkomentar bahwa mencoba paralayang adalah benar-benar pengalaman yang menakjubkan.

Yap, apabila Anda menyukai olahraga semacam extreme sport, maka Anda harus mencoba Paralayang! :D

Biaya Terbang Tandem
Olahraga ini memang relatif mahal, tapi sesuai apabila dibandingkan dengan faktor safety dan ongkos sewa peralatan serta pengalaman yang diperlukan oleh seorang tandem master. Sesuai prinsip permintaan, semakin banyak peserta, maka semakin murah:

Maret 2010
Biaya untuk 1 orang peserta = Rp 300.000,-
Biaya untuk grup 5 orang = Rp 275.000,- / orang
Biaya untuk grup > 5 orang = Rp 250.000,- / orang

Tertarik? Coba kunjungi website Fly Indonesia Paragliding untuk lebih jelasnya. :)